Minggu, 06 September 2015

ALDEHID ATAU KETON???


            Hidup menjadi sesorang yang memiliki status yang tidak jelas membuat dimana pun aku berada aku tak bisa dapat ketenangan. Bagaimana tidak banyak yang bertanya “Anda berasal dari mana??” dan ketika pertanyaan itu dilontarkan aku selalu hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Bukan karena aku bisu atau tuli tak mendengarkan apa yang mereka tanyakan, tetapi aku memang bingung harus menjawab apa.
            Ehm.. mungkin kalian bingung kenapa aku tak bisa menjawab. Namun memang itu kenyataannya, statusku tidak jelas memang. Benar-benar anak bolang (bocah ilang dalam bahasa jawa = anak hilang). Tinggal di kota metropolitan layaknya Jakarta membuat statusku tak begitu dipermasalahkan. Namun tetap saja jika sesekali ditanya mengenai hal tersebut dan aku tidak bisa jawab itu rasanya benar-benar mengenaskan. Rasanya itu seperti terkena Air raksa di kulit, benar-benar perih.
            Sebab musabab kenapa aku memiliki status yang tidak jelas ya karena kedua orang tuaku, siapa lagi. Benar-benar anak durhaka, harusnya aku berterima kasih pada mereka karena telah diberi kesempatan untuk hidup hingga aku bisa dewasa seperti ini, bukan malah menyalahkan mereka. Namun memang itu kenyataannya, aku tak bisa berbohong.
            Ayahku bermarga alkohol namanya Fenol. Sedangkan Ibuku bermarga eter dan namana adalah Dieter. Karena marga yang berbeda inilah aku bingung mau dimasukkan marga apa. Mau masuk marga ayah, ibu tak terima. Mau ikut marga ibu, ayah tak mau kalah. Alhasil hingga dewasa aku tak memiliki marga apapun. Hidup tanpa marga serasa hidup tanpa senyawa. Hidup itu hampa, bayangkan saja anda ditolak di marga manapun, dan ketika ditanya marga apa anda bahkan tak bisa menjawab. Benar-benar dingin.
            Aku tak diizinkan masuk ke marga alkohol oleh ibu bukan tanpa alasan. Semua terpapar jelas bahwa sifat-sifatku tak satupun yang cocok. ayahku memiliki massa molekul hampir sama dengan ibu, namun titik didih ayah lebih tinggi dari ibu. Ini karena ayah memiliki ikatan hidrogen yang susah untuk lepas. Ayah juga larut dalam air, bahkan ayah bisa berteman dengan natrium, asam, oksigen, dan hidrogen halide. Sedang aku, tidak sama sekali. Begitu juga dengan ayah, ia melarangku masuk marga eter karena tak satupun sifatku mirip dengan ibu. Ibu adalah cairan yang mudah menguap dan mudah terbakar, ia sedikit larut dalam air. Ibu juga bisa berteman dengan senyawa-senyawa kovalen. Namun aku tak sedikit un mirip dengan mereka berdua. Aku galau.
            Bahkan untuk tipe pekerjaan pun aku juga berbeda dengan mereka. Di dalam marga ayah yang bermarga alkohol para anggotanya cenderung bekerja sebagai campuran bahan bakar bensin, pembersih luka, antiseptic, zat antibeku pada radiator mobil, bahan baku serat sintetis, pelembab dan pelembut pada lotion, dan bahkan sebagai bahan peledak. Keluarga Ibu yang bermarga eter sering kali bekerja sebagai pelarut dan obat anestesi. Banyak juga yang bekerja sebagai obat bius dan zat aditif pada bensin.
Suatu hari di senja temaram di dalam rumah kami tercinta dan termewah laboratorium kimia aku bertanya pada mereka kedua orang tua tersayangku..
“Ayah.. Ibu.. Kini usiaku telah menginjak 17 tahun,, namun aku tak kunjung tau sebenarnya apa margaku?? Atau aku masuk marga apa??”
“Oh anakku tersayang.. Pentingkah membahashal tersebut di senja yang indah ini..”, jawab ayahku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini.
“Iya Nak,, Tak penting lah masalah itu,, Kamu adalah anak sah kami.. Tenang saja..”, Ibuku membela Ayah
“Ayah.. Ibu… Aku sudah dewasa.. aku haruslah tau aku marga apa,,, Aku tak bisa menjawab jika ditanya margaku Ayah Ibu.. Ayolah ku mohon,,, “, rengekku pada Ayah dan Ibu
Ayah dan Ibu kemudian berdiskusi, mereka berbisik pelan, namun karena aku ada di samping mereka tetap saja aku dengar apa yang mereka bicarakan.
“Apa kita harus memberitahu dia Yah??”
“Tapia pa dia mau terima???”
“Tapi dia terus saja bertanya pada kita.. Kita tak bisa berlama-lama menyembunyikan semua darinya ketika ia telah dewasa..”
“Hem,, Baiklah,, aku akan memberitahunya… Semoga dia bisa menerima apa yang kita katakana hari ini..”
“Semoga saja Ayah, semua akan baik-baik saja.. All is well”
“Iya Bu..”
Tak lama setelah itu pembicaraan selesai. Ayah menarik napas panjang dan mencoba untuk berbicara dengan menatap mataku. Namun ayah masih saja diam meski pandangannya telah menatap ke arahku.
“Maafkan Ayah baru memberitahumu sekarang. Ayah tak tega jika harus memberitahumu ketika itu, kau terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit bahwa sesungguhnya kau tidak semarga dengan kami..”
“Hah.. Apa… Ayah bercanda,, aku anak kandung kalian, tapi kenapa tak semarga,, Apa aku bukan anak kandung kalian??”
“Marga setiap orang berbeda,,, Semuanya diperhitungkan dari sifat-sifat yang mereka miliki dan juga pekerjaan mereka.. Kau tidak sama dengan masing-masing dari kami Nak.. Kau punya marga lain..”
“Marga apa itu Ayah??? Aku bahkan tak tahu kalau ada marga lain diluar marga kalian berdua..”
“Tentu ada anakku.. Marga tersebut adalah marga aldehid dan keton… Kau mungkin masuk di salah satu marga tersebut,,”
“Tapi yang mana Ayah??? Aku bingung.. Tak bisakah ayah memilihkan marga untukku???”
“Tentu tak bisa anakku.. Ibumu yang akn menjelaskannya lebih detail.. Iya telah memegang akte kelahiranmu..”
Ibu segera masuk ke dalam rumah. Mengambil sesuatu yang seharusnya diberikan padaku sejak lebih dari 3 tahun yang lalu ketika aku masuk SMA (Sekolah Menengah Alkana). SMA dikhususkan bagi senyawa-senyawa turunan alkana seperti ku, namun aku hampir saja dikeluarkan gara-gara tak bisa menunjukkan akta kelahiran ketika masuk sekolah ini.
“Pertama Ibu akan menjelaskan marga aldehid dan keton dalam masing-masing klasifikasi.. Dengarkan baik-baik anakku tersayang”
“Baik Ibu..”
“Aldehid adalah senyawa polar. Mereka larut dalam air dan berteman dengan senyawa polar dan nonpolar. Ia memang tidak memiliki ikatan hidrogen, namun titik didihnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan senyawa karbon yang memiliki massa relatif yang sama. Aldehid sering kali bekerja sebagai pengawet mayat dan juga sebagai bahan untuk membuat plastik tahan panas atau termoset. Sedangkan keton adalah senyawa polar, ia larut dalam air namun juga tidak memiliki ikatan hidrogen. Titik didihnya juga tinggi jika dibandingkan dengan hidrokarbon lainnya yang memiliki massa relative yang hampir sama. Keton sering kali bekerja sebagai pelarut senyawa-senyawa nonpolar, namun banyak juga yang bekerja sebagai tinner untuk membersihakan cat kuku atau kuteks”
“Lalu apa bedanya aldehid dengan keton Ibu… Darimana aku bisa tahu kalau aku adalah salah satu marga mereka.???”
“Itu mudah anakku, Kita akan mengadakan uji dengan pereaksi yang berbeda…”
“Kapan aku bisa melakukannya Ibu???? aku ingin segera punya marga….”
“Secepatnya anakku.. Iya kan Yah???”
“Iya, tentu saja… Kalau perlu sekarang kita tes…”
“Ayo kita berangkat..”, ajakku.
“Baiklah Anakku..”
Segera mereka bergegas dan bersiap untuk pergi ke laboratorium pusat science di dekat kediaman mereka. Sesampai disana mereka segera antri.
Sepuluh menit kemudian tibalah giliranku untuk tes.
“Selamat pagi… Sebelum memulai tes saya akan menjelaskan mekanismenya.. Apakah anda sudah siap???”, tanya seorang laboran cantik yang mengetesku.
“Sudah..”
“Baiklah,, Tes ini menggunakan pereaksi Fehling dan Tollens. Jika positif maka pada pereaksi Fehling akan terdapat endapan merah, sedang Tollens akan menghasilkan cermin perak. Apakah anda sudah mengerti??”
“Iya,, saya sudah mengerti..”
Tes pun segera dimulai. Waktu yang dibutuhkan untuk tes tidak lama, hasilnya pun segera bisa dilihat oleh pengecek sehingga mereka keluar ruangan dengan membawa kabar gembira. Begitu juga denganku, Ayah dan Ibuku telah menunggu di luar, aku akan segera memberitahu mereka tentang hasilnya.
            Sejak saat itulah aku tak galau lagi. Aku tak bingung lagi ketika ditanya siapa margaku dan siapa namaku. Karena dengan bangga aku akan menyebutkan bahwa margaku adalah ALDEHID, dan namaku adalah FORMALDEHID.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar