Hidup menjadi sesorang yang memiliki
status yang tidak jelas membuat dimana pun aku berada aku tak bisa dapat
ketenangan. Bagaimana tidak banyak yang bertanya “Anda berasal dari mana??” dan
ketika pertanyaan itu dilontarkan aku selalu hanya bisa diam dan tidak bisa
menjawab sepatah kata pun. Bukan karena aku bisu atau tuli tak mendengarkan apa
yang mereka tanyakan, tetapi aku memang bingung harus menjawab apa.
Ehm.. mungkin kalian bingung kenapa
aku tak bisa menjawab. Namun memang itu kenyataannya, statusku tidak jelas
memang. Benar-benar anak bolang (bocah ilang dalam bahasa jawa = anak hilang).
Tinggal di kota metropolitan layaknya Jakarta membuat statusku tak begitu
dipermasalahkan. Namun tetap saja jika sesekali ditanya mengenai hal tersebut
dan aku tidak bisa jawab itu rasanya benar-benar mengenaskan. Rasanya itu
seperti terkena Air raksa di kulit, benar-benar perih.
Sebab musabab kenapa aku memiliki
status yang tidak jelas ya karena kedua orang tuaku, siapa lagi. Benar-benar
anak durhaka, harusnya aku berterima kasih pada mereka karena telah diberi
kesempatan untuk hidup hingga aku bisa dewasa seperti ini, bukan malah menyalahkan
mereka. Namun memang itu kenyataannya, aku tak bisa berbohong.
Ayahku bermarga alkohol namanya
Fenol. Sedangkan Ibuku bermarga eter dan namana adalah Dieter. Karena marga
yang berbeda inilah aku bingung mau dimasukkan marga apa. Mau masuk marga ayah,
ibu tak terima. Mau ikut marga ibu, ayah tak mau kalah. Alhasil hingga dewasa
aku tak memiliki marga apapun. Hidup tanpa marga serasa hidup tanpa senyawa. Hidup
itu hampa, bayangkan saja anda ditolak di marga manapun, dan ketika ditanya
marga apa anda bahkan tak bisa menjawab. Benar-benar dingin.
Aku tak diizinkan masuk ke marga
alkohol oleh ibu bukan tanpa alasan. Semua terpapar jelas bahwa sifat-sifatku
tak satupun yang cocok. ayahku memiliki massa molekul hampir sama dengan ibu,
namun titik didih ayah lebih tinggi dari ibu. Ini karena ayah memiliki ikatan
hidrogen yang susah untuk lepas. Ayah juga larut dalam air, bahkan ayah bisa
berteman dengan natrium, asam, oksigen, dan hidrogen halide. Sedang aku, tidak
sama sekali. Begitu juga dengan ayah, ia melarangku masuk marga eter karena tak
satupun sifatku mirip dengan ibu. Ibu adalah cairan yang mudah menguap dan
mudah terbakar, ia sedikit larut dalam air. Ibu juga bisa berteman dengan
senyawa-senyawa kovalen. Namun aku tak sedikit un mirip dengan mereka berdua.
Aku galau.
Bahkan untuk tipe pekerjaan pun aku
juga berbeda dengan mereka. Di dalam marga ayah yang bermarga alkohol para
anggotanya cenderung bekerja sebagai campuran bahan bakar bensin, pembersih
luka, antiseptic, zat antibeku pada radiator mobil, bahan baku serat sintetis,
pelembab dan pelembut pada lotion, dan bahkan sebagai bahan peledak. Keluarga
Ibu yang bermarga eter sering kali bekerja sebagai pelarut dan obat anestesi.
Banyak juga yang bekerja sebagai obat bius dan zat aditif pada bensin.
Suatu
hari di senja temaram di dalam rumah kami tercinta dan termewah laboratorium
kimia aku bertanya pada mereka kedua orang tua tersayangku..
“Ayah..
Ibu.. Kini usiaku telah menginjak 17 tahun,, namun aku tak kunjung tau
sebenarnya apa margaku?? Atau aku masuk marga apa??”
“Oh
anakku tersayang.. Pentingkah membahashal tersebut di senja yang indah ini..”,
jawab ayahku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini.
“Iya
Nak,, Tak penting lah masalah itu,, Kamu adalah anak sah kami.. Tenang saja..”,
Ibuku membela Ayah
“Ayah..
Ibu… Aku sudah dewasa.. aku haruslah tau aku marga apa,,, Aku tak bisa menjawab
jika ditanya margaku Ayah Ibu.. Ayolah ku mohon,,, “, rengekku pada Ayah dan
Ibu
Ayah
dan Ibu kemudian berdiskusi, mereka berbisik pelan, namun karena aku ada di
samping mereka tetap saja aku dengar apa yang mereka bicarakan.
“Apa
kita harus memberitahu dia Yah??”
“Tapia
pa dia mau terima???”
“Tapi
dia terus saja bertanya pada kita.. Kita tak bisa berlama-lama menyembunyikan
semua darinya ketika ia telah dewasa..”
“Hem,,
Baiklah,, aku akan memberitahunya… Semoga dia bisa menerima apa yang kita
katakana hari ini..”
“Semoga
saja Ayah, semua akan baik-baik saja.. All is well”
“Iya
Bu..”
Tak
lama setelah itu pembicaraan selesai. Ayah menarik napas panjang dan mencoba
untuk berbicara dengan menatap mataku. Namun ayah masih saja diam meski
pandangannya telah menatap ke arahku.
“Maafkan
Ayah baru memberitahumu sekarang. Ayah tak tega jika harus memberitahumu ketika
itu, kau terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit bahwa sesungguhnya kau
tidak semarga dengan kami..”
“Hah..
Apa… Ayah bercanda,, aku anak kandung kalian, tapi kenapa tak semarga,, Apa aku
bukan anak kandung kalian??”
“Marga
setiap orang berbeda,,, Semuanya diperhitungkan dari sifat-sifat yang mereka
miliki dan juga pekerjaan mereka.. Kau tidak sama dengan masing-masing dari
kami Nak.. Kau punya marga lain..”
“Marga
apa itu Ayah??? Aku bahkan tak tahu kalau ada marga lain diluar marga kalian
berdua..”
“Tentu
ada anakku.. Marga tersebut adalah marga aldehid dan keton… Kau mungkin masuk
di salah satu marga tersebut,,”
“Tapi
yang mana Ayah??? Aku bingung.. Tak bisakah ayah memilihkan marga untukku???”
“Tentu
tak bisa anakku.. Ibumu yang akn menjelaskannya lebih detail.. Iya telah
memegang akte kelahiranmu..”
Ibu
segera masuk ke dalam rumah. Mengambil sesuatu yang seharusnya diberikan padaku
sejak lebih dari 3 tahun yang lalu ketika aku masuk SMA (Sekolah Menengah
Alkana). SMA dikhususkan bagi senyawa-senyawa turunan alkana seperti ku, namun
aku hampir saja dikeluarkan gara-gara tak bisa menunjukkan akta kelahiran
ketika masuk sekolah ini.
“Pertama
Ibu akan menjelaskan marga aldehid dan keton dalam masing-masing klasifikasi..
Dengarkan baik-baik anakku tersayang”
“Baik
Ibu..”
“Aldehid
adalah senyawa polar. Mereka larut dalam air dan berteman dengan senyawa polar
dan nonpolar. Ia memang tidak memiliki ikatan hidrogen, namun titik didihnya
lebih tinggi jika dibandingkan dengan senyawa karbon yang memiliki massa relatif
yang sama. Aldehid sering kali bekerja sebagai pengawet mayat dan juga sebagai
bahan untuk membuat plastik tahan panas atau termoset. Sedangkan keton adalah
senyawa polar, ia larut dalam air namun juga tidak memiliki ikatan hidrogen.
Titik didihnya juga tinggi jika dibandingkan dengan hidrokarbon lainnya yang
memiliki massa relative yang hampir sama. Keton sering kali bekerja sebagai
pelarut senyawa-senyawa nonpolar, namun banyak juga yang bekerja sebagai tinner
untuk membersihakan cat kuku atau kuteks”
“Lalu
apa bedanya aldehid dengan keton Ibu… Darimana aku bisa tahu kalau aku adalah
salah satu marga mereka.???”
“Itu
mudah anakku, Kita akan mengadakan uji dengan pereaksi yang berbeda…”
“Kapan
aku bisa melakukannya Ibu???? aku ingin segera punya marga….”
“Secepatnya
anakku.. Iya kan Yah???”
“Iya,
tentu saja… Kalau perlu sekarang kita tes…”
“Ayo
kita berangkat..”, ajakku.
“Baiklah
Anakku..”
Segera
mereka bergegas dan bersiap untuk pergi ke laboratorium pusat science di dekat
kediaman mereka. Sesampai disana mereka segera antri.
Sepuluh
menit kemudian tibalah giliranku untuk tes.
“Selamat
pagi… Sebelum memulai tes saya akan menjelaskan mekanismenya.. Apakah anda
sudah siap???”, tanya seorang laboran cantik yang mengetesku.
“Sudah..”
“Baiklah,,
Tes ini menggunakan pereaksi Fehling dan Tollens. Jika positif maka pada
pereaksi Fehling akan terdapat endapan merah, sedang Tollens akan menghasilkan
cermin perak. Apakah anda sudah mengerti??”
“Iya,,
saya sudah mengerti..”
Tes
pun segera dimulai. Waktu yang dibutuhkan untuk tes tidak lama, hasilnya pun
segera bisa dilihat oleh pengecek sehingga mereka keluar ruangan dengan membawa
kabar gembira. Begitu juga denganku, Ayah dan Ibuku telah menunggu di luar, aku
akan segera memberitahu mereka tentang hasilnya.
Sejak saat itulah aku tak galau
lagi. Aku tak bingung lagi ketika ditanya siapa margaku dan siapa namaku.
Karena dengan bangga aku akan menyebutkan bahwa margaku adalah ALDEHID, dan namaku adalah FORMALDEHID.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar