Kamis, 10 September 2015

Jejak Terakhir Sang Pahlawan Pendidikan

“Telat....”, teriakku histeris
Langsung ku pacu dengan kecepatan tinggi sepeda motor matic hitam kesayanganku. Entah delapan puluh kilometer per jam atau berapa sudah kecepatanku tak ku hiraukan.
“Aku harus cepat sampai di sekolah, kalau tidak aku.....”, batinku.
Tak bisa aku melanjutkan bayanganku apa yang akan terjadi padaku nanti jika aku benar-benar telah sampai di sekolah.
            Hari ini jalanan lumayan ramai. Maklum habis hujan, anak-anak sekolah bersama-sama berangkat menuju ke sekolah masing-masing. Ada yang naik sepeda, motor atau ada yang naik becak. Bus pun tak mau kalah, bus sekolah maupun bukan sama-sama memacu kendaraan mereka di atas rata-rata. Bagaimana tidak, jam menunjukkan pukul 06.55 WIB, kurang lima menit lagi bel sekolah berbunyi. Kurang cepat sedikit bisa dijamin anda akan telat sampai di sekolah.
            Jarak antara sekolahku dengan rumah sekitar sepuluh kilometer. Aku tinggal di Kecamatan Rejotangan sedangkan sekolahku SMAN 1 Ngunut berada di Jalan Raya Sumberingin Kidul Kecamatan Ngunut. Beda kecamatan dengan rumahku, walaupun begitu sama-sama kami berada di Kabupaten Tulungagung, Kabupaten yang dikenal sebagai penghasil marmer dan disinilah aku dilahirkan.
            Jam tanganku menunjukkan pukul 07.00 WIB. Jantungku semakin berdegub kencang. Hari ini aku benar-benar telat. Dijamin bakalan dapat hukuman.
“Dua kali hukuman... Huah.. -_- “, batinku.
Meski jelas telat masih saja ku pacu kuda besiku dengan kecepatan yang sama seperti tadi tak ku kurangi setengah kilometer per jam pun.
            Perempatan tong depan adalah tempat terakhirku belok sebelum sampai di sekolah. Aku harus berhati-hati karena banjir melanda perempatan tong setiap kali hujan. Jika tidak berhati-hati dan akhirnya basah aku bisa kedinginan hingga sore hari. Belokan ku lalui dengan mudah dan Alhamdulillah tidak tergores air sedikit pun.
            Tak berapa lama kemudian aku telah sampai di sekolah, lewat lima menit dari pukul 07.00 WIB. Wakil kepala sekolah (wakasek) bagian kesiswaan Bapak Suyono, S. Pd. sudah stand by untuk menghukum kami para murid TELATAN. Seperti biasa motor dipinggirkan dulu lalu lari mengitari lapangan sebanyak telat waktu yang semestinya. Guru olahraga kami Bapak Fatoni, S. Pd. ikut mengawasi kami yang sedang menjalani hukuman sambil mengawasi anak didiknya yang telat mengikuti pelajarannya.
            Selesai lari sebanyak waktu ketelatanku. Aku langsung bergegas. Mengambil motor dan segera memarkinkannya di tempat parker. Kemudian berlari menuju kelas sambil harap-harap cemas. Bagaimana tak cemas, hukuman selanjutnya telah menanti, huhuhu... L Telah terlihat dari jendela bahwa guru mata pelajaran pertama telah datang. Pelan-pelan ku ketuk pintu.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam...”, jawab guruku dengan ramah.
“Maaf Bu saya terlambat...”, kataku memelas.
“Hari ini sepertinya banyak yang telat, ayo sekarang keluar semua kita bersih-bersih dulu karena kalian tidak tertib...”
“Loh... kok gitu Bu....”, protes anak-anak.
“Ini hukuman agar lain kali kalian bisa lebih disiplin...”
“Ahhh...”, teriak kami sekelas dengan kompak.
“Tugas kalian adalah mencabuti rumput..”
“Apa.... Tweweng...”
            Kami tak bisa banyak berkomentar, lebh baik segera bekerja biar segera kelar urusannya. Biar kami juga bisa belajar. Kami pun dengan sedikit suka rela mulai mencabuti rumput yang ada. Kami segera bergotong royong agar rumput yang banyak ini segera hilang dari pandangan kami. Tapi tetap saja yang namanya males kalau udah males ya tetep males, alhasil aku melihat saja, hehehe :D
            Tak berapa lama kami pun disuruh masuk kelas. Mungkin bu guru bosan melihat hanya sedikit saja yang bekerja untuk mencabuti rumput, banyak yang melihat saja. Guru unik yang menghukum kami dengan mencabuti rumput ini bernama Marsinah. Bu Marshanda begitulah beberapa siswa menyebutnya. Bukan karena mirip Marshanda atau bagaimana tetapi karena beberapa huruf di awal nama beliau hampir sama dengan Marshanda.
            Bu marsinah adalah guru tertua di sekolahku kala itu. Mengajar Biologi membuatnya dituntut untuk aktif menjelaskan. Sadar bahwa suaranya tak lagi bisa menjangkau keseluruhan ruangan beliau pun mempunyai siasat bagus. Beliau menjelaskan materi menggunakan mikrofon dan speaker. Berhubung di kelas kami tidak ada maka Bu Marsinah selalu meminjam mikrofon milik laboratorium ilmu pengetahuan alam sekolah kami. Umurnya yang tak lagi muda membuat beliau tentu tak mampu membawa barang berat layaknya mikrofon dan speaker. Untuk itulah selalu sebelum pelajarn dimulai beliau menyuruh ketua kelas Andi Hidayat untuk mengambilkannya untuk beliau.
            Namun dasar anak-nak XII IPA-1 yang memang iseng. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Arga Murbiantoro dan Yuyon Alif Masruri yang memang terkenal paling jail di kelas. Mereka ikut bersama Andi untuk mengambil mikrofon. Lalu ketika sudah dapat masing-masing dari mereka ambil bagian membawa barang-barang ini. Ada yang pegang mikrofonnya, ada yang bawa speakernya dan ada pula yang bawa kabelnya. Setelah itu mereka langsung lari bersama-sama kemudian berlagak seperti wartawan yang sedang mencari berita, menanyai siapa saja orang yang terdekat dengan tempat kejadian perkara. Benar-benar membuat gelak tawa di kelas kami sebelum Bu Marsinah memulai pelajarannya.
            Tak hanya inovasi seperti mikrofon yang Bu Marsinah gunakan agar siswanya fokus dan dapat menerima pelajarannya dengan baik. Inovasi lain seperti menggunakan properti seperti kertas manila juga beliau gunakan. Bedanya guru kami yang satu ini menggunakan kertas manila yang telah beliau tulis dan gambar dengan spidol boardmarker milik beliau sendiri. Made in Bu Marsinah. Benar-benar beda dengan yang lain. Beliau memang mengambil rujukan dari sebuah buku namun cara menyampaikan materinya itu dengan bahasa dan gambar beliau sendiri sehingga kami dengan mudah dapat memahami apa yang beliau maksudkan.
            Seringkali beliau menggunakan manusia hidup sebagai objek pembelajaran untuk lebih memahami biologi. Yang paling sering dijadikan objek adalah teman kami sekelas berna Putra Purdika Ari Santoso. Dia adalah anak tertinggi di kelas kami. Beliau selalu menjadikan Putra sebagai objek karena dia tertinggi mungkin biar kelihatan, wkwk.. Beliau selalu menyuruh Putra untuk menempelkan kertas manila miliknya ke whiteboard kelas kami menggunakan selotip. Namun selotip beliau seringkali sudah tidak menempel sehingga aku dan teman-teman selalu menggantikan selotip beliau dengan selotip baru agar menempel. Umumnya Putralah yang selalu membantu beliau. Sampai menghapus pun Putra yang melakukan. Putra rela menunggu di di bawah papan untuk menghapus hasil tulisan beliau yang telah kami tulis. Muka Putra sampai memelas.
            Untuk masalah ulangan harian Bu Marsinah orang yang ketat. Tiap kali ulangan kami dibagi menjadi dua gelombang. Pembagian gelombang ini seringkali didasarkan pada posisi duduk kami. Kanan dan kiri begitulah kami dibedakan. Kadang kanan dulu yang keluar kadang kiri, menunggu instruksi dari guru tercinta kami Bu Marsinah. Beliau akan mengeluarkan soal yang telah dibahas sebelumnya. Umunya soalnya tidak ada di buku, maksudnya beliau selalu membuat soal sendiri tanpa mencontek buku apapun. Dan soalnya selalu singkat jawabannya walaupun terkadang pertanyaannya panjang sekali. Karena jawabannya singkat maka beberapa hari setelah ulangan pengoreksian jawaban dilakukan bersama-sama. Namun kami tidak memegang punya kami sendiri melainkan milik kelas lain. Ini untuk menghindari ketidakobjektivan atas pengoreksian. Baru setelah itu nilainya dimasukkan ke dalam buku besar bu Marsinah sebagai buku absen dan buku catatan materi beliau. Setelah itu baru diumumkan siapa saja yang remidi. Remidi akan segera digelar di luar jam pelajaran namun tetap berada di kelas. Namun jika masih remidi lagi maka remidi akan dilakukan di rumah Bu Marsinah yang dekat sekali dengan sekolah. Akan tetapi jika telah remidi untuk ketiga kalinya maka Bu Marsinah akan menyuruh anak yang remidi untuk menggambar sebuah objek yang menjadi materi ulangan pada waktu itu.
            Matanya yang telah tua tidak menghalanginya untuk menatap setiap anak yang mengikuti ulangan dengan seksama. Jadi apapun yang mereka dapat adalah murni dari hasil kerja mereka bukan hasil contekan. Otomatis yang remidi adalah mereka yang belum begitu memahami materi. Maka dari itu remidi menjadi jalan bagi mereka untuk memahami materi lebih mendalam.
            Usia yang telah tua tidak sebanding dengan semangatnya dalam mengajar yang masih sangat tinggi. Meski waktu itu adalah tahun terakhirnya mengajar beliau tetap mengajar dengan sepenuh hati. Naik sepeda mini warna biru yang memiliki keranjang hitam setiap harinya ke sekolah tak membuatnya letih. Beliau justru kelihatan paling semangat di antara guru lainnya. Bahkan di detik-detik terakhir kepergian suaminya beliau tetap survive mengajar demi kami. Tak ada sedikitpun wajah sedih di wajah beliau. Beliau begitu rapat menyembunyikannya. Beliau mungkin tak ingin kami melihat kesedihan beliau yang telah lama mengurus suaminya yang sakit seorang diri. Pernah dulu ketika hari raya kami tidak bisa menemui beliau di rumah. Eh kami malah bertemu dengan beliau di terminal bus, beliau sedang oper bus menuju Ngunut dari bus asal Kediri untuk pulang. Beliau baru saja menjemput suaminya dari rumah sakit di daerah Kediri.
            Beberapa bulan setelah itu suaminya dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Paginya beliau masih mengajar kami. Namun beliau bilang bahwa tidak bisa memberi tambahan sore ini karena suaminya mau ke dokter. Baru beberapa jam setelah beliau selesai mengajar ada kabar bahwa suami Bu Marsinah meninggal. Kami turut berduka cita karenanya. Akan tetapi kami tetep salut karena beliau setelah kejadian itu bisa bangkit dan tetap mengajar dengan baik. Menghabiskan tahun terakhir mengajar bersama kami murid XII IPA-1. Sebenarnya beliau telah kehabisan waktu mengajar ketika kami kelas XI namun karena enggan meninggalkan kami beliau menambah masa mengajarnya satu tahun lagi khusus untuk mengajar kami. Terima kasih Bu Marsinah. Inilah secerca tulisan untuk engkau guru Biologi yang kami sayang. Yang menginspirasi kami tak mau menyerah sampai kapanpun sebelum mencapai cita-cita kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar