“Telat....”, teriakku histeris
Langsung ku pacu
dengan kecepatan tinggi sepeda motor matic hitam kesayanganku. Entah delapan
puluh kilometer per jam atau berapa sudah kecepatanku tak ku hiraukan.
“Aku harus cepat
sampai di sekolah, kalau tidak aku.....”, batinku.
Tak bisa aku
melanjutkan bayanganku apa yang akan terjadi padaku nanti jika aku benar-benar
telah sampai di sekolah.
Hari ini jalanan lumayan ramai.
Maklum habis hujan, anak-anak sekolah bersama-sama berangkat menuju ke sekolah
masing-masing. Ada yang naik sepeda, motor atau ada yang naik becak. Bus pun
tak mau kalah, bus sekolah maupun bukan sama-sama memacu kendaraan mereka di
atas rata-rata. Bagaimana tidak, jam menunjukkan pukul 06.55 WIB, kurang lima
menit lagi bel sekolah berbunyi. Kurang cepat sedikit bisa dijamin anda akan
telat sampai di sekolah.
Jarak antara sekolahku dengan rumah
sekitar sepuluh kilometer. Aku tinggal di Kecamatan Rejotangan sedangkan
sekolahku SMAN 1 Ngunut berada di Jalan Raya Sumberingin Kidul Kecamatan
Ngunut. Beda kecamatan dengan rumahku, walaupun begitu sama-sama kami berada di
Kabupaten Tulungagung, Kabupaten yang dikenal sebagai penghasil marmer dan
disinilah aku dilahirkan.
Jam tanganku menunjukkan pukul 07.00
WIB. Jantungku semakin berdegub kencang. Hari ini aku benar-benar telat.
Dijamin bakalan dapat hukuman.
“Dua kali
hukuman... Huah.. -_- “, batinku.
Meski jelas
telat masih saja ku pacu kuda besiku dengan kecepatan yang sama seperti tadi tak
ku kurangi setengah kilometer per jam pun.
Perempatan tong depan adalah tempat
terakhirku belok sebelum sampai di sekolah. Aku harus berhati-hati karena
banjir melanda perempatan tong setiap kali hujan. Jika tidak berhati-hati dan
akhirnya basah aku bisa kedinginan hingga sore hari. Belokan ku lalui dengan
mudah dan Alhamdulillah tidak tergores air sedikit pun.
Tak berapa lama kemudian aku telah
sampai di sekolah, lewat lima menit dari pukul 07.00 WIB. Wakil kepala sekolah
(wakasek) bagian kesiswaan Bapak Suyono, S. Pd. sudah stand by untuk
menghukum kami para murid TELATAN. Seperti biasa motor dipinggirkan dulu lalu
lari mengitari lapangan sebanyak telat waktu yang semestinya. Guru olahraga
kami Bapak Fatoni, S. Pd. ikut mengawasi kami yang sedang menjalani hukuman
sambil mengawasi anak didiknya yang telat mengikuti pelajarannya.
Selesai lari sebanyak waktu
ketelatanku. Aku langsung bergegas. Mengambil motor dan segera memarkinkannya
di tempat parker. Kemudian berlari menuju kelas sambil harap-harap cemas.
Bagaimana tak cemas, hukuman selanjutnya telah menanti, huhuhu... L Telah terlihat dari jendela
bahwa guru mata pelajaran pertama telah datang. Pelan-pelan ku ketuk pintu.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam...”,
jawab guruku dengan ramah.
“Maaf Bu saya
terlambat...”, kataku memelas.
“Hari ini
sepertinya banyak yang telat, ayo sekarang keluar semua kita bersih-bersih dulu
karena kalian tidak tertib...”
“Loh... kok gitu
Bu....”, protes anak-anak.
“Ini hukuman
agar lain kali kalian bisa lebih disiplin...”
“Ahhh...”,
teriak kami sekelas dengan kompak.
“Tugas kalian
adalah mencabuti rumput..”
“Apa....
Tweweng...”
Kami tak bisa banyak berkomentar,
lebh baik segera bekerja biar segera kelar urusannya. Biar kami juga bisa
belajar. Kami pun dengan sedikit suka rela mulai mencabuti rumput yang ada.
Kami segera bergotong royong agar rumput yang banyak ini segera hilang dari
pandangan kami. Tapi tetap saja yang namanya males kalau udah males ya tetep
males, alhasil aku melihat saja, hehehe :D
Tak berapa lama kami pun disuruh
masuk kelas. Mungkin bu guru bosan melihat hanya sedikit saja yang bekerja
untuk mencabuti rumput, banyak yang melihat saja. Guru unik yang menghukum kami
dengan mencabuti rumput ini bernama Marsinah. Bu Marshanda begitulah beberapa
siswa menyebutnya. Bukan karena mirip Marshanda atau bagaimana tetapi karena
beberapa huruf di awal nama beliau hampir sama dengan Marshanda.
Bu marsinah adalah guru tertua di
sekolahku kala itu. Mengajar Biologi membuatnya dituntut untuk aktif
menjelaskan. Sadar bahwa suaranya tak lagi bisa menjangkau keseluruhan ruangan
beliau pun mempunyai siasat bagus. Beliau menjelaskan materi menggunakan
mikrofon dan speaker. Berhubung di kelas kami tidak ada maka Bu Marsinah selalu
meminjam mikrofon milik laboratorium ilmu pengetahuan alam sekolah kami.
Umurnya yang tak lagi muda membuat beliau tentu tak mampu membawa barang berat
layaknya mikrofon dan speaker. Untuk itulah selalu sebelum pelajarn dimulai
beliau menyuruh ketua kelas Andi Hidayat untuk mengambilkannya untuk beliau.
Namun dasar anak-nak XII IPA-1 yang
memang iseng. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Arga Murbiantoro dan Yuyon
Alif Masruri yang memang terkenal paling jail di kelas. Mereka ikut bersama
Andi untuk mengambil mikrofon. Lalu ketika sudah dapat masing-masing dari
mereka ambil bagian membawa barang-barang ini. Ada yang pegang mikrofonnya, ada
yang bawa speakernya dan ada pula yang bawa kabelnya. Setelah itu mereka
langsung lari bersama-sama kemudian berlagak seperti wartawan yang sedang mencari
berita, menanyai siapa saja orang yang terdekat dengan tempat kejadian perkara.
Benar-benar membuat gelak tawa di kelas kami sebelum Bu Marsinah memulai
pelajarannya.
Tak hanya inovasi seperti mikrofon
yang Bu Marsinah gunakan agar siswanya fokus dan dapat menerima pelajarannya
dengan baik. Inovasi lain seperti menggunakan properti seperti kertas manila
juga beliau gunakan. Bedanya guru kami yang satu ini menggunakan kertas manila
yang telah beliau tulis dan gambar dengan spidol boardmarker milik beliau
sendiri. Made in Bu Marsinah. Benar-benar beda dengan yang lain. Beliau
memang mengambil rujukan dari sebuah buku namun cara menyampaikan materinya itu
dengan bahasa dan gambar beliau sendiri sehingga kami dengan mudah dapat
memahami apa yang beliau maksudkan.
Seringkali beliau menggunakan
manusia hidup sebagai objek pembelajaran untuk lebih memahami biologi. Yang
paling sering dijadikan objek adalah teman kami sekelas berna Putra Purdika Ari
Santoso. Dia adalah anak tertinggi di kelas kami. Beliau selalu menjadikan
Putra sebagai objek karena dia tertinggi mungkin biar kelihatan, wkwk.. Beliau
selalu menyuruh Putra untuk menempelkan kertas manila miliknya ke whiteboard
kelas kami menggunakan selotip. Namun selotip beliau seringkali sudah tidak
menempel sehingga aku dan teman-teman selalu menggantikan selotip beliau dengan
selotip baru agar menempel. Umumnya Putralah yang selalu membantu beliau.
Sampai menghapus pun Putra yang melakukan. Putra rela menunggu di di bawah
papan untuk menghapus hasil tulisan beliau yang telah kami tulis. Muka Putra
sampai memelas.
Untuk masalah ulangan harian Bu
Marsinah orang yang ketat. Tiap kali ulangan kami dibagi menjadi dua gelombang.
Pembagian gelombang ini seringkali didasarkan pada posisi duduk kami. Kanan dan
kiri begitulah kami dibedakan. Kadang kanan dulu yang keluar kadang kiri,
menunggu instruksi dari guru tercinta kami Bu Marsinah. Beliau akan
mengeluarkan soal yang telah dibahas sebelumnya. Umunya soalnya tidak ada di
buku, maksudnya beliau selalu membuat soal sendiri tanpa mencontek buku apapun.
Dan soalnya selalu singkat jawabannya walaupun terkadang pertanyaannya panjang
sekali. Karena jawabannya singkat maka beberapa hari setelah ulangan
pengoreksian jawaban dilakukan bersama-sama. Namun kami tidak memegang punya
kami sendiri melainkan milik kelas lain. Ini untuk menghindari
ketidakobjektivan atas pengoreksian. Baru setelah itu nilainya dimasukkan ke
dalam buku besar bu Marsinah sebagai buku absen dan buku catatan materi beliau.
Setelah itu baru diumumkan siapa saja yang remidi. Remidi akan segera digelar
di luar jam pelajaran namun tetap berada di kelas. Namun jika masih remidi lagi
maka remidi akan dilakukan di rumah Bu Marsinah yang dekat sekali dengan
sekolah. Akan tetapi jika telah remidi untuk ketiga kalinya maka Bu Marsinah
akan menyuruh anak yang remidi untuk menggambar sebuah objek yang menjadi
materi ulangan pada waktu itu.
Matanya yang telah tua tidak
menghalanginya untuk menatap setiap anak yang mengikuti ulangan dengan seksama.
Jadi apapun yang mereka dapat adalah murni dari hasil kerja mereka bukan hasil
contekan. Otomatis yang remidi adalah mereka yang belum begitu memahami materi.
Maka dari itu remidi menjadi jalan bagi mereka untuk memahami materi lebih
mendalam.
Usia yang telah tua tidak sebanding
dengan semangatnya dalam mengajar yang masih sangat tinggi. Meski waktu itu
adalah tahun terakhirnya mengajar beliau tetap mengajar dengan sepenuh hati.
Naik sepeda mini warna biru yang memiliki keranjang hitam setiap harinya ke
sekolah tak membuatnya letih. Beliau justru kelihatan paling semangat di antara
guru lainnya. Bahkan di detik-detik terakhir kepergian suaminya beliau tetap survive
mengajar demi kami. Tak ada sedikitpun wajah sedih di wajah beliau. Beliau
begitu rapat menyembunyikannya. Beliau mungkin tak ingin kami melihat kesedihan
beliau yang telah lama mengurus suaminya yang sakit seorang diri. Pernah dulu
ketika hari raya kami tidak bisa menemui beliau di rumah. Eh kami malah bertemu
dengan beliau di terminal bus, beliau sedang oper bus menuju Ngunut dari bus
asal Kediri untuk pulang. Beliau baru saja menjemput suaminya dari rumah sakit
di daerah Kediri.
Beberapa bulan setelah itu suaminya
dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Paginya beliau masih mengajar kami. Namun beliau
bilang bahwa tidak bisa memberi tambahan sore ini karena suaminya mau ke
dokter. Baru beberapa jam setelah beliau selesai mengajar ada kabar bahwa suami
Bu Marsinah meninggal. Kami turut berduka cita karenanya. Akan tetapi kami
tetep salut karena beliau setelah kejadian itu bisa bangkit dan tetap mengajar
dengan baik. Menghabiskan tahun terakhir mengajar bersama kami murid XII IPA-1.
Sebenarnya beliau telah kehabisan waktu mengajar ketika kami kelas XI namun
karena enggan meninggalkan kami beliau menambah masa mengajarnya satu tahun
lagi khusus untuk mengajar kami. Terima kasih Bu Marsinah. Inilah secerca
tulisan untuk engkau guru Biologi yang kami sayang. Yang menginspirasi kami tak
mau menyerah sampai kapanpun sebelum mencapai cita-cita kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar