Bicara
tentang pendidikan sama halnya tentang membicarakan masa depan negeri ini.
Bagaimana tidak, pendidikan merupakan salah satu unsur pokok yang bisa
menentukan akan jadi apa negeri ini kelak, siapa yang akan memimpin negeri ini
kelak? Bagaimana sifat penerus generasi kita nanti? Apakah pendidikannya telah
mumpuni dan mampu meneruskan perjuangan kita? Pertanyaan seperti itulah yang
selalu muncul dibenak para generasi tua yang hendak pensiun ini. Generasi yang
akan menyerahkan tampu kekuasaan pada mereka-mereka yang masih sanggup berlari
dan mengejar impian bangsa ini. Menyelaraskan kembali visi dan misi negeri ini
yang mungkin pada generasi sebelumnya sempat direngkuh dan dibawa ke singgasana
kerajaan negeri yang bernama Indonesia ini.
Mengapa penting membahas tentang
pendidikan? Apa pentingnya pendidikan? hingga banyak orang
mendengung-dengungkan masalah ini tiap saat, tiap waktu, kapanpun dan dimanapun
berada. Tentu penting jika banyak orang yang memperjuangkan hal ini. Namun apa
berdampak bagi pendidikan kita saat ini? Stagnansi bahkan kemunduran dunia
pendidikan mulai banyak dibahas di segala media. Media massa, media audiovisual
atau media audio banyak mengangkat tema pendidikan sebagai salah satu topik
yang pantas mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen negeri ini. Tak hanya
pemerintah tapi juga rakyat. Karena negara kita adalah negara demokrasi bukan
monarki. Segalanya dibuat dari rakyat dengan tujuan menyejahterakan rakyat dan
dilakukan pula oleh rakyat.
Akhir-akhir ini pendidikan menjadi
sorotan banyak pihak dan banyak menjadi buah bibir setiap kalangan. Pendidikan
yang seharusnya media bagi anak yang hendak tumbuh dan mengembangkan pikiran
mereka malah menjadi sosok penjahat yang siap menerkam mereka yang lengah akan
penjagaan diri mereka. Menakutkan memang jika diketahui pendidikan dijadikan
sebagai kedok tindakan biadab orang-orang yang mau untung sendiri dan tidak mau
memikirkan dampak apa yang akan terjadi jika hal-hal semacam itu dilakukan.
Mereka hanya tahu ini untuk kesenangan, tak peduli apa yang akan terjadi
selanjutnya, itu bukan urusanku, toh semua urusan akan beres jika ada uang.
Sangat riskan sekali negeri ini.
Standarisasi sekolah yang diterapkan
dirjen pendidikan seolah hanya simbol. Simbol inilah yang disebut sebagai sekolah.
Ini sekolah yang bagus tak peduli pada kenyataannya betapa bobroknya moral dan
kualitas sekolah yang bersangkutan. Sekolah yang disebut sebagai sekolah
standar internasional nyatanya sama saja dengan sekolah yang tak memiliki title
apapun. sekolah biasa tanpa titel yang bisa dibilang hanya berdiri saja. Lantas
apa bedanya yang berstandar atau tidak. Semua jadi tidak ada bedanya, semua
sama saja, sama-sama sekolah yang katanya merupakan media pendidikan.
Sekolah memiliki fungsi pokok untuk
mendidik siswanya. Ketika fungsi pokok terpenuhi maka fungsi sekolah telah
terwujud. Itu baru disebut sekolah, tidak hanya numpang nama. Mungkin para
orang tua sudah bosan apa yang dilakukan sekolah-sekolah yang dianggap baik dan
punya prestise tapi malah mengecewakan. Biaya mahal tapi kualitas
rendah. Sudah jadi rahasia umum yang mendarah daging dimanapun bagian negeri
ini. Mungkin yang masih murni adalah sekolah-sekolah pinggiran yang tak peduli
berapapun biayanya. Mereka mengajar dan belajar karena murni untuk belajar
tidak ada unsur lainnya. Disana yang mungkin tak memiliki gedung yang megah
atau bahkan malah hanya beratapkan langit, berdindingkan alam luas, ya itulah
sekolah alam. Sekolah yang benar-benar alami dan dijamin kualitasnya juga
tinggi.
Prihatin atau tidak tapi itu adanya.
Ketika di satu sisi ada sekolah yang sedang menikmati setiap fasilitas mewahnya
sementara di sisi lain di belahan Indonesia entah seelah mana ada anak didik
yang sedang susah payah berjuang untuk sekolah. Berjuang agar mendapatkan ilmu
dan ikut mencerdaskan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-citanya dalam
pembukaan UUD 1945. Ada hal lain yang lebih riskan, ketika semua siswa di
daerah-daerah pinggiran belajar giat dengan keterbatasan fasilitas yang sudah
fasiltas lengkap malah tawuran dengan sekolah lain. Masalah sepele yang
harusnya tidak dibesar-besarkan seperti itu. Sangat membuang-buang waktu dan
tenaga. Korban banyak berjatuhan. Tak hanya yang bersalah tapi juga yang tidak
bersalah harus menanggung resiko.
Penurunan integritas moral dan cara
berpikir anak didik remaja sekarang turut memberikan catatan hitam bagi buku
diary pendidikan di Indonesia. Namun begitulah realita yang ada. Tak ada
rekayasa dari siapapun dan bagaimanapun. Itu adalah masalah yang seharusnya
mendapat sorotan pemerintah. Akan tetapi tidak bisa kalau hanya disorot, perlu
juga segera ditindak lanjuti agar segera selesai dan tidak menjalar kemana-mana
yang bisa memberikan dampak buruk lebih besar lagi bagi masa depan.
Masalah demi masalah yang terjadi di
dunia pendidikan tidak bisa dihindari oleh siapapun, pasti ada masalah di
setiap perjalanan hidup ini. Jika kita bisa mengatasinya maka masalah itu akan
mendewasakan kita tapi jika tidak maka perlu banyak perbaikan di segala sisi
kehidupan. Begitulah sebuah pepatah mengatakan. Masalah-masalah yang ada belum
banyak menemui titik terang. Malah semakin gelap saja sepertinya citra
pendidikan kita saat ini. Bila ingin memperbaiki semua maka perlu ada perbaikan
dari akar permasalahan yang ada. Pendidikan emas adalah pendidikan yang bisa
mengatasi masalah pendidikan yang ada. Dikatakan hebat seseorang bukan karena
tidak ada masalah dalam hidupnya, tapi karena ia berhasil menyelesaikan masalahnya
dan siap menghadapi tantangan selanjutnya menuju hidup yang lebih baik lagi.
Dan itulah jawabannya. Cara yang
tepat menuju pendidikan emas adalah menghadapi dan meperbaiki segala
permasalahan yang ada bukan lari begitu saja dan tiba-tba memberikan gebrakan
baru yang dirasa lebih baik. Bukan itu jawabannya, jawabannya ada pada kalian
semua. Iya, kalian sang penerus generasi-generasi sekarang ini, kalian yang
sedang berkuasa dibalik kursi-kursi mahal milik negari ini. Kita semua harus
bersatu mengatasi semuanya bersama. Tidak saling menyalahkan dan melemparkan
tanggung jawab, tapi bergandengan tangan bersama dan mencapai mufakat dalam
melakukan tindakan yang konkret dan positif.
Tindakan pertama yang harus
dilakukan adalah mengembalikan fungsi sekolah kepada fungsi pokok sekolah yakni
mendidik. Disfungsi sekolah yang terjadi belakangan ini perlu untuk
dikembalikan sebagai fungsi aslinya. Ini bertujuan agar elemen-elemen yang ada
di dalam unsur sekolah dapat berfungsi. Masalah disfungsi pasti ada akar permasalahannya
di setiap sekolah, mencari tahu dan segera mengatasi.
Langkah yang kedua adalah menarik
standarisasi sekolah internasional, nasional dan yang lain. Tetap ada
persaingan antar tiap sekolah namun bukan menggunakan standarisasi seperti itu,
tapi dengan penilaian khusus oleh suatu badan khusus yang mengurusi hal
tersebut. Pencabutan ini tentunya dengan alasan bahwa sekolah yang diberikan
standar tidak memberikan kontribusi dan kualitas yang memadai sejak mendapatkan
standar tersebut. Yang dapat diartikan bahwa telah terjadi kemunduran di
sekolah tersebut. Namun tidak bisa dilakukan pencabutan secara sepihak tapi
juga harus meminta persetujuan dari berbagai pihak dan telah melalui berbagai
pertimbangan dan penelitian yang beragam dan telah dilakukan selama beberapa
waktu lamanya.
Langkah yang ketiga adalah
pemerataan pendidikan. Pemerataan pendidikan disini adalah membuat semua anak
di seluruh Indonesia ini semuanya bersekolah. Karena pada dasarnya setiap anak
pasti memiliki keinginan untuk belajar. Nah disitulah peran pemerintah,
memeratakan pendidikan bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa pandang bulu.
Walaupun aling tidak pemerintah hanya memberikan fasilitator atau pengajar
saja, belum berupa bangunan fisik, mungkin akan lebih membantu. Belajar tidak
hanya belajar formal tapi belajar dengan alam merupakan salah satu cara yang
efektif untuk mengembangkan intuisi anak. Anak akan tumbuh normal ketika otak
dan fikiran mereka dibiarkan bekerja sebagaimana mestinya bukan dipaksa dan
dicerca dengan berbagai hal yang belum layak mereka fikirkan dan ketahui. Yang
namanya memeratakan pendidikan juga memeratakan sistem pendidikan yang ada
disesuaikan dengan usia tumbuh kembang mereka.
Langkah terakhir adalah menerapkan
pendidikan karakter sebagai sistem pendidikan kita yang baru. Wacana ini telah
banyak diucapkan semua pihak namun realisasinya masih kurang terlihat.
Pendidikan karakter sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada seluruh anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan
tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik kepada Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kepada bangsa agar menjadi manusia
sebagai insan kamil. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah sebagai salah
satu media yang memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai luhur pada
anak sehingga terwujud perilaku baik sesuai dengan aturan agama dan falsafah
Pancasila. Fungsi yang kedua adalah fungsi perbaikan dan penguatan, ini
mengarah kepada langkah kita yang berupaya untuk mengatasi permasalahan yang
ada di dunia pendidikan yang dapat menghambat perkembangan anak. Dan fungsi
yang terakhir adalah sebagai penyaring yang dapat menjadi pemilah budaya-budaya
yang masuk di Indonesia, disaring agar yang tidak sesuai dibuang saja. Media
pendidikan karakter itu banyak tapi yang paling dasar tentunya tetap keluarga
karena disitulah anak mulai berinteraksi. Sedang yang kedua adalah sekolah
sebagai media formal, oleh karena itu pengembalian fungsi pokok sekolah harus
segera dikembalikan sehingga sebagai media karakter dapat terwujud dan
terlaksana. Namun yang tidak kalah penting adalah media massa. Walaupun bukan
unsur penting tetapi pengaruhnya besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena
itu pendidikan lewat media massa ini juga perlu diperhatikan dan mendapat
prioritas. Walaupun antara media yang satu dengan yang lain harus ada
kesinambungannya agar tujuan pendidikan karakter dapat terwujud.
Itulah tetralogi langkah menuju
pendidikan emas. Sedikit tetapi paling tidak menggambarkan betapa banyak hal yang harus dibenahi dalam diri sistem pendidikan kita. Meski begitu masih ada
banyak jalan menuju Roma. Sebobrok-bobroknya pendidikan kita pasti masih ada
jalan untuk memperbaikinya. Jangan patah semangat, mari bergandengan tangan
bersama untuk memperbaiki semua. Semua tak akan berjalan tanpa adanya kerja
sama antara satu pihak dengan pihak lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar