Selasa, 15 September 2015

TETRALOGI LANGKAH MENUJU PENDIDIKAN EMAS

Bicara tentang pendidikan sama halnya tentang membicarakan masa depan negeri ini. Bagaimana tidak, pendidikan merupakan salah satu unsur pokok yang bisa menentukan akan jadi apa negeri ini kelak, siapa yang akan memimpin negeri ini kelak? Bagaimana sifat penerus generasi kita nanti? Apakah pendidikannya telah mumpuni dan mampu meneruskan perjuangan kita? Pertanyaan seperti itulah yang selalu muncul dibenak para generasi tua yang hendak pensiun ini. Generasi yang akan menyerahkan tampu kekuasaan pada mereka-mereka yang masih sanggup berlari dan mengejar impian bangsa ini. Menyelaraskan kembali visi dan misi negeri ini yang mungkin pada generasi sebelumnya sempat direngkuh dan dibawa ke singgasana kerajaan negeri yang bernama Indonesia ini.
            Mengapa penting membahas tentang pendidikan? Apa pentingnya pendidikan? hingga banyak orang mendengung-dengungkan masalah ini tiap saat, tiap waktu, kapanpun dan dimanapun berada. Tentu penting jika banyak orang yang memperjuangkan hal ini. Namun apa berdampak bagi pendidikan kita saat ini? Stagnansi bahkan kemunduran dunia pendidikan mulai banyak dibahas di segala media. Media massa, media audiovisual atau media audio banyak mengangkat tema pendidikan sebagai salah satu topik yang pantas mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen negeri ini. Tak hanya pemerintah tapi juga rakyat. Karena negara kita adalah negara demokrasi bukan monarki. Segalanya dibuat dari rakyat dengan tujuan menyejahterakan rakyat dan dilakukan pula oleh rakyat.
            Akhir-akhir ini pendidikan menjadi sorotan banyak pihak dan banyak menjadi buah bibir setiap kalangan. Pendidikan yang seharusnya media bagi anak yang hendak tumbuh dan mengembangkan pikiran mereka malah menjadi sosok penjahat yang siap menerkam mereka yang lengah akan penjagaan diri mereka. Menakutkan memang jika diketahui pendidikan dijadikan sebagai kedok tindakan biadab orang-orang yang mau untung sendiri dan tidak mau memikirkan dampak apa yang akan terjadi jika hal-hal semacam itu dilakukan. Mereka hanya tahu ini untuk kesenangan, tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, itu bukan urusanku, toh semua urusan akan beres jika ada uang. Sangat riskan sekali negeri ini.
            Standarisasi sekolah yang diterapkan dirjen pendidikan seolah hanya simbol. Simbol inilah yang disebut sebagai sekolah. Ini sekolah yang bagus tak peduli pada kenyataannya betapa bobroknya moral dan kualitas sekolah yang bersangkutan. Sekolah yang disebut sebagai sekolah standar internasional nyatanya sama saja dengan sekolah yang tak memiliki title apapun. sekolah biasa tanpa titel yang bisa dibilang hanya berdiri saja. Lantas apa bedanya yang berstandar atau tidak. Semua jadi tidak ada bedanya, semua sama saja, sama-sama sekolah yang katanya merupakan media pendidikan.
            Sekolah memiliki fungsi pokok untuk mendidik siswanya. Ketika fungsi pokok terpenuhi maka fungsi sekolah telah terwujud. Itu baru disebut sekolah, tidak hanya numpang nama. Mungkin para orang tua sudah bosan apa yang dilakukan sekolah-sekolah yang dianggap baik dan punya prestise tapi malah mengecewakan. Biaya mahal tapi kualitas rendah. Sudah jadi rahasia umum yang mendarah daging dimanapun bagian negeri ini. Mungkin yang masih murni adalah sekolah-sekolah pinggiran yang tak peduli berapapun biayanya. Mereka mengajar dan belajar karena murni untuk belajar tidak ada unsur lainnya. Disana yang mungkin tak memiliki gedung yang megah atau bahkan malah hanya beratapkan langit, berdindingkan alam luas, ya itulah sekolah alam. Sekolah yang benar-benar alami dan dijamin kualitasnya juga tinggi.
            Prihatin atau tidak tapi itu adanya. Ketika di satu sisi ada sekolah yang sedang menikmati setiap fasilitas mewahnya sementara di sisi lain di belahan Indonesia entah seelah mana ada anak didik yang sedang susah payah berjuang untuk sekolah. Berjuang agar mendapatkan ilmu dan ikut mencerdaskan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-citanya dalam pembukaan UUD 1945. Ada hal lain yang lebih riskan, ketika semua siswa di daerah-daerah pinggiran belajar giat dengan keterbatasan fasilitas yang sudah fasiltas lengkap malah tawuran dengan sekolah lain. Masalah sepele yang harusnya tidak dibesar-besarkan seperti itu. Sangat membuang-buang waktu dan tenaga. Korban banyak berjatuhan. Tak hanya yang bersalah tapi juga yang tidak bersalah harus menanggung resiko.
            Penurunan integritas moral dan cara berpikir anak didik remaja sekarang turut memberikan catatan hitam bagi buku diary pendidikan di Indonesia. Namun begitulah realita yang ada. Tak ada rekayasa dari siapapun dan bagaimanapun. Itu adalah masalah yang seharusnya mendapat sorotan pemerintah. Akan tetapi tidak bisa kalau hanya disorot, perlu juga segera ditindak lanjuti agar segera selesai dan tidak menjalar kemana-mana yang bisa memberikan dampak buruk lebih besar lagi bagi masa depan.
            Masalah demi masalah yang terjadi di dunia pendidikan tidak bisa dihindari oleh siapapun, pasti ada masalah di setiap perjalanan hidup ini. Jika kita bisa mengatasinya maka masalah itu akan mendewasakan kita tapi jika tidak maka perlu banyak perbaikan di segala sisi kehidupan. Begitulah sebuah pepatah mengatakan. Masalah-masalah yang ada belum banyak menemui titik terang. Malah semakin gelap saja sepertinya citra pendidikan kita saat ini. Bila ingin memperbaiki semua maka perlu ada perbaikan dari akar permasalahan yang ada. Pendidikan emas adalah pendidikan yang bisa mengatasi masalah pendidikan yang ada. Dikatakan hebat seseorang bukan karena tidak ada masalah dalam hidupnya, tapi karena ia berhasil menyelesaikan masalahnya dan siap menghadapi tantangan selanjutnya menuju hidup yang lebih baik lagi.
            Dan itulah jawabannya. Cara yang tepat menuju pendidikan emas adalah menghadapi dan meperbaiki segala permasalahan yang ada bukan lari begitu saja dan tiba-tba memberikan gebrakan baru yang dirasa lebih baik. Bukan itu jawabannya, jawabannya ada pada kalian semua. Iya, kalian sang penerus generasi-generasi sekarang ini, kalian yang sedang berkuasa dibalik kursi-kursi mahal milik negari ini. Kita semua harus bersatu mengatasi semuanya bersama. Tidak saling menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab, tapi bergandengan tangan bersama dan mencapai mufakat dalam melakukan tindakan yang konkret dan positif.
            Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan fungsi sekolah kepada fungsi pokok sekolah yakni mendidik. Disfungsi sekolah yang terjadi belakangan ini perlu untuk dikembalikan sebagai fungsi aslinya. Ini bertujuan agar elemen-elemen yang ada di dalam unsur sekolah dapat berfungsi. Masalah disfungsi pasti ada akar permasalahannya di setiap sekolah, mencari tahu dan segera mengatasi.
            Langkah yang kedua adalah menarik standarisasi sekolah internasional, nasional dan yang lain. Tetap ada persaingan antar tiap sekolah namun bukan menggunakan standarisasi seperti itu, tapi dengan penilaian khusus oleh suatu badan khusus yang mengurusi hal tersebut. Pencabutan ini tentunya dengan alasan bahwa sekolah yang diberikan standar tidak memberikan kontribusi dan kualitas yang memadai sejak mendapatkan standar tersebut. Yang dapat diartikan bahwa telah terjadi kemunduran di sekolah tersebut. Namun tidak bisa dilakukan pencabutan secara sepihak tapi juga harus meminta persetujuan dari berbagai pihak dan telah melalui berbagai pertimbangan dan penelitian yang beragam dan telah dilakukan selama beberapa waktu lamanya.
            Langkah yang ketiga adalah pemerataan pendidikan. Pemerataan pendidikan disini adalah membuat semua anak di seluruh Indonesia ini semuanya bersekolah. Karena pada dasarnya setiap anak pasti memiliki keinginan untuk belajar. Nah disitulah peran pemerintah, memeratakan pendidikan bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa pandang bulu. Walaupun aling tidak pemerintah hanya memberikan fasilitator atau pengajar saja, belum berupa bangunan fisik, mungkin akan lebih membantu. Belajar tidak hanya belajar formal tapi belajar dengan alam merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan intuisi anak. Anak akan tumbuh normal ketika otak dan fikiran mereka dibiarkan bekerja sebagaimana mestinya bukan dipaksa dan dicerca dengan berbagai hal yang belum layak mereka fikirkan dan ketahui. Yang namanya memeratakan pendidikan juga memeratakan sistem pendidikan yang ada disesuaikan dengan usia tumbuh kembang mereka.
            Langkah terakhir adalah menerapkan pendidikan karakter sebagai sistem pendidikan kita yang baru. Wacana ini telah banyak diucapkan semua pihak namun realisasinya masih kurang terlihat. Pendidikan karakter sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada seluruh anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kepada bangsa agar menjadi manusia sebagai insan kamil. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah sebagai salah satu media yang memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai luhur pada anak sehingga terwujud perilaku baik sesuai dengan aturan agama dan falsafah Pancasila. Fungsi yang kedua adalah fungsi perbaikan dan penguatan, ini mengarah kepada langkah kita yang berupaya untuk mengatasi permasalahan yang ada di dunia pendidikan yang dapat menghambat perkembangan anak. Dan fungsi yang terakhir adalah sebagai penyaring yang dapat menjadi pemilah budaya-budaya yang masuk di Indonesia, disaring agar yang tidak sesuai dibuang saja. Media pendidikan karakter itu banyak tapi yang paling dasar tentunya tetap keluarga karena disitulah anak mulai berinteraksi. Sedang yang kedua adalah sekolah sebagai media formal, oleh karena itu pengembalian fungsi pokok sekolah harus segera dikembalikan sehingga sebagai media karakter dapat terwujud dan terlaksana. Namun yang tidak kalah penting adalah media massa. Walaupun bukan unsur penting tetapi pengaruhnya besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu pendidikan lewat media massa ini juga perlu diperhatikan dan mendapat prioritas. Walaupun antara media yang satu dengan yang lain harus ada kesinambungannya agar tujuan pendidikan karakter dapat terwujud.
            Itulah tetralogi langkah menuju pendidikan emas. Sedikit tetapi paling tidak menggambarkan betapa banyak hal yang harus dibenahi dalam diri sistem pendidikan kita. Meski begitu masih ada banyak jalan menuju Roma. Sebobrok-bobroknya pendidikan kita pasti masih ada jalan untuk memperbaikinya. Jangan patah semangat, mari bergandengan tangan bersama untuk memperbaiki semua. Semua tak akan berjalan tanpa adanya kerja sama antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar