Minggu, 25 Maret 2018

Saya Tidak Tertinggal Bukan?



Berhari-hari lamanya pikiranku mulai terusik teringat hasil pertemuan terakhir dengan teman-teman baruku. Teman-teman yang oleh Allah SWT dipertemukan denganku dengan karakter mereka yang unik-unik. Tujuan kami bertemu kemarin memang masih membahas hal yang sama seperti dengan pertemuan minggu lalu. Essay begitulah tema yang senantiasa kami dengungkan tatkala kami saling bertukar ide.
Tema essay yang kami tulis pun masih buram rasanya. Belum ada satu pilihan jatuh kepada salah satu dari beberapa judul yang sempat diutarakan oleh teman-teman. Rasanya pijaran lampu ideku pun tak mampu menembus hingga menemukan tema yang tepat. Perjalanan selama kuliah 4 tahun lamanya rasanya terlalu panjang hingga saya sendiri pun lupa sebenarnya apa yang menarik dari perjalanan studi saya selama ini.
Berbicara soal essay tentu bukanlah suatu pengetahuan baru bagi diri saya sendiri dan tema-teman. Mempelajari tentang bahasa Indonesia sekian lamanya tentu membuat kami tidak asing lagi dengan istilah essay. Akan tetapi belakangan ini essay mulai memenuhi pikiran kami karena kami berkewajiban harus menulis dalam bentuk essay.  Berdasarkan pemahaman saya dari teman-teman yang lebih memahami tentang essay, essay saya simpulkan sebagai salah bentuk karangan bebas. Bebas sebebas kami yang bahkan rasanya ingin menulis cerita curahan hati kami masing-masing dalam essay tersebut.
Belakangan saya mulai memahami essay yang akan kami tulis tidak sedekar curahan hati kami saja. Pesan kami harus tersampaikan kepada pembaca terutama mengenai bagaimana sebenarnya kami bisa berproses hingga berada di titik ini. Rasanya kalau dibayangkan menulis hal semacam itu agak sulit bagi kami yang belum pernah menulis essay. Namun perbincangan kami dalam pertemuan yang tidak terasa sudah sampai pertemuan kedua membuat saya dan teman-teman tidak patah semangat dan ma uterus belajar.
Masing-masing dari kami memiliki ciri khas tulisan masing-masing. Walaupun saya awalnya minder untuk memulai menulis dengan bahasa saya yang terkesan apa adanya. Saya tidak bisa menulis dengan banyak pilihan diksi yang bagus dan tepat. Mungkin karena terbiasa sering menulis buku harian ya saya jadi menulis semacam ini. Ah entahlah, saya hanya berusaha untuk menulis. Saya tidak tertinggal bukan? Semoga saja tidak, karena pepatah mengatakan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Seperti belajar untuk menulis essay, walaupun tidak bisa memilih diksi yang tepat tapi saya berharap kelak saya juga akan menulis essay sesuai dengan aturan dan gaya menulis saya.

Tulislah apa yang ingin kamu tulis…
Seperti menulis setiap target mimpi yang ingin kamu raih…
Tugasmu hanya menulis…
Tidak peduli nantinya tulisanmu akan kau coret kapan…
Pastinya keyakinan bahwa tulisan mimpi itu akan tercoret akan membawamu pada raihan impianmu itu..

#Fajarmenulis_140318

Tidak ada komentar:

Posting Komentar