Selasa, 15 September 2015

EFEK BURUK TANFA INFORMASI

Saat mendengar kata Oriflame tentu yang terbersit dibenak kita adalah produk kecantikan. Anda benar, Oriflame adalah salah satu produk kecantikan dari Sweden yang pemasarannya ada di Indonesia. Produk ini asli berasal dari Sweden yang langsung dibawa ke Indonesia tanpa melewati negara-negara lain. Sehingga biaya atau bea cukai yang ada tidak semahal produk lain yang harus melewati banyak negara dulu sebelum sampai di Indonesia.

            Oriflame untuk memasarkan produknya agar mencapai konsumen secara langsung menggunakan katalog sebagai media informasi. Walaupun selain katalog kita bisa langsung melihat produk Oriflame di dalam websitenya. Dalam katalog yang terbit setiap bulannya selalu ada tanda bahwa Oriflame merupakan perusahaan kecantikan dengan penjualan langsung No. 1 di Eropa (No.1 Europe Beauty Company Selling Direct)

            Selain eksistensinya  yang berada di Eropa Oriflame juga mengepakkan sayapnya begitu lebar di Indonesia. Salah satu buktinya adalah Oriflame terdaftar dalam salah satu organisasi penjual di Indonesia.  Organisasi tersebut adalah APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia).

            Tidak hanya itu saja, eksistensi Oriflame di Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya member dan reseller Oriflame. Para member ini tidak saja dari kalangan orang-orang dewasa tapi juga dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bisnis ini dulunya hanya offline alias lewat mulut ke mulut langsung. Namun sekarang sudah merambah dunia online seperti media sosial dan website. Seringkali salah satu media sosial yang digunakan adalah BBM.

            Dari media sosiallah saya mulai mengenal Oriflame. Adik saya merupakan salah satu reseller Oriflame. Ia pun menawari saya produk-produknya lewat BBM. Kala itu awal tahun ketika saya baru saja mendapat angpau awal tahun dari ayah. Karena merasa punya uang saya pun mulai tertarik dengan tawarannya.
“Mbak, gak pengen liat katalog Oriflameku? ini ada dikson lho?”
Mulai deh saya seorang wanita normal mendengar diskon langsung saja matanya hijau. Langsung saja saya jawab.
“Iya ta? Ada obat jerawat gak?”
“Ada mbak, bentar tak tanyakan”.
“Oke”
Selang beberapa hari adi saya BBM lagi.
“Ada mbak, tapi facial foam, gimana?”
“Aku liat dulu barangnya ya?”
“Oke, nanti malam aku ke rumahmu”.
“Sip”
            Karena tertarik dengan tawarannya, sepulangnya saya dari kuliah saya langsung ke rumahnya. Malam itu juga saya melihat katalog dan ditunjukkan produknya. Selain di katalog ia juga menunjukkan tentang produk yang telah ia beli dari Oriflame untuk meyakinkan saya sebagai calon konsumennya.

            Saya tertarik dan langsung memesannya. Harga Rp. 75.000,- yang biasanya saya anggap mahal pun demi menghilangkan jerawat dengan mudahnya saya tertarik. Keesokan harinya saya langsung memberikan uang cash pada adik saya, padahal barang belum datang. Mungkin karena yang berjualan adalah adik saya sendiri saya pun yakin dan tanpa ragu langsung percaya padanya walaupun barang pesanan saya belum datang.
            Seminggu kemudian produk datang. Adik saya ketika memberikan barang tersebut pada saya tidak memberikan informasi terkait produk tersebut, bahkan dia hanya memberikan barang tersebut tanpa berbicara apapun atau mewanti-wantikan suatu hal. Karena saya berharap jerawat ini segera hilang saya pun segera memakainya ketika mandi. Berikut adalah hasil pemakaian saya tentang produk facial foam Oriflame pembersih jerawat tersebut.

PEMAKAIAN
EFEK PADA WAJAH
TINDAKAN
Pemakaian ke-1
Wajah terasa agak panas
Saya abaikan karena saya menganggap efek panas tersebut adalah sebagai efek pemakaian di awal
Pemakaian ke-2
Wajah kering
Masih saya abaikan karena alasan yang sama
Pemakaian ke-3
Wajah kering dan kusam
Saya mulai berpikir untuk menghentikan pemakaian
Pemakaian ke-4
Wajah kering, kusam dan dikasih make-up tidak menempel malah bekasnya tidak rata
Saya memutuskan untuk menghentikan pemakaian

            Karena akibat semacam itulah saya memutuskan untuk menghentikan pemakaian. Karena jerawat yang saya harapkan hilang malah membuat kulit saya kering, kusam dan jelek jika dipakaian make-up. Tindakan yang saya lakukan sebagai konsumen hanya memutuskan untuk berhenti memakai tanpa pernah melakukan protes kepada siapapun, baik kepada reseller ataupun produsen. Walaupun rasanya sayang dengan uang Rp. 75.000,- tadi yang seharusnya jika saya belikan hal lain akan sangat bermanfaat. Saya berpikir percuma juga jika saya protes kepada adik saya, karena dia juga tidak memahami tentang produk yang ia jual. Bahkan ketika bertemu dengannya kembali dia bilang sudah berhenti menjadi reseller Oriflame karena merasa tertekan dengan manajernya yang setiap harinya menuntutnya untuk mencapai omset yang seharusnya. Saya pun merasa jalan untuk saya protes tentang produk tersebut sudah tertutup, padahal masih ada banyak jalan tanpa pernah saya pahami sebagai konsumen.
            Selang beberapa bulan setelah itu tepatnya pada tanggal 3 September 2015 ada tawaran facial gratis dari produk yang sama. Karena penasaran dengan produk yang saya pakai dulu saya pun tertarik untuk hadir dan menerima tawaran yang kebetulan berasal dari rekan saya. Tempatnya yang dekat yakni di kos salah satu teman pun menambah ketertarikan saya untuk mengikutinya.
            Sebelum acara dimulai Mas Eka sebagai Gold Director dari Oriflame cabang Kediri memperkenalkan Oriflame dari mulai sejarahnya hingga bagaimana Oriflame saat ini. Dari situlah saya mendapat informasi bahwasanya Oriflame memberi garansi bagi pelanggan selama 30 hari jika pelanggan tidak merasa puas dengan produk Oriflame dan bisa meminta ganti rugi produk yang senilai dengan barang tersebut namun harus sesuai dengan syarat dan ketentuan berlaku yakni harus menggunakan terus-menerus produk tersebut.

            Selanjutnya rekan Mas Eka menjelaskan tentang produk-produk Oriflame diantaranya adalah bagian skin care. Dari situlah saya tahu bahwasanya produk yang telah saya gunakan hanyalah untuk wajah yang jerawatnya sudah sangat banyak, tidak berlaku untuk yang jearwatnya hanya sedikit apalagi cuma satu jearawat.

            Inilah hak yang dilanggar dari saya sebagai konsumen. Yakni hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang produk yang saya beli. Dari sini saya jadi berpikir, apakah para reseller yang telah banyak ada kebanyakan seamatir adik saya? Sehingga tidak bisa memberikan informasi tentang produk-produk yang dijualnya. Ataukah memang tidak ada training terlebih dahulu? Entahlah, saya hanya berharap konsumen yang mendapat perlakuan yang sama seperti saya tidak akan ada lagi. Karena saya tahu sebenarnya produk tersebut baik, akan tetapi jika konsumen tidak mendapat informasi yang memadai maka akan terjadi efek yang buruk.

1 komentar:

  1. Tulisan dan ilustrasinya bagus, hanya saja pilihan warnanya agak menyulitkan untuk dibaca. Diterima, 90.

    BalasHapus