Saat
mendengar kata Oriflame tentu yang terbersit dibenak kita adalah produk
kecantikan. Anda benar, Oriflame adalah salah satu produk kecantikan dari
Sweden yang pemasarannya ada di Indonesia. Produk ini asli berasal dari Sweden
yang langsung dibawa ke Indonesia tanpa melewati negara-negara lain. Sehingga
biaya atau bea cukai yang ada tidak semahal produk lain yang harus melewati
banyak negara dulu sebelum sampai di Indonesia.
Oriflame untuk memasarkan produknya
agar mencapai konsumen secara langsung menggunakan katalog sebagai media
informasi. Walaupun selain katalog kita bisa langsung melihat produk Oriflame
di dalam websitenya. Dalam katalog yang terbit setiap bulannya selalu ada tanda
bahwa Oriflame merupakan perusahaan kecantikan dengan penjualan langsung No. 1
di Eropa (No.1 Europe Beauty Company Selling Direct)
Selain eksistensinya yang berada di Eropa Oriflame juga
mengepakkan sayapnya begitu lebar di Indonesia. Salah satu buktinya adalah
Oriflame terdaftar dalam salah satu organisasi penjual di Indonesia. Organisasi tersebut adalah APLI (Asosiasi
Penjualan Langsung Indonesia).
Tidak hanya itu saja, eksistensi Oriflame
di Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya member dan reseller
Oriflame. Para member ini tidak saja dari kalangan orang-orang dewasa
tapi juga dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bisnis ini dulunya hanya offline
alias lewat mulut ke mulut langsung. Namun sekarang sudah merambah dunia online
seperti media sosial dan website. Seringkali salah satu media sosial yang
digunakan adalah BBM.
Dari media sosiallah saya mulai
mengenal Oriflame. Adik saya merupakan salah satu reseller Oriflame. Ia
pun menawari saya produk-produknya lewat BBM. Kala itu awal tahun ketika saya
baru saja mendapat angpau awal tahun dari ayah. Karena merasa punya uang saya
pun mulai tertarik dengan tawarannya.
“Mbak, gak pengen liat katalog Oriflameku? ini ada dikson lho?”
Mulai deh saya
seorang wanita normal mendengar diskon langsung saja matanya hijau. Langsung
saja saya jawab.
“Iya ta? Ada obat jerawat gak?”
“Ada mbak,
bentar tak tanyakan”.
“Oke”
Selang beberapa
hari adi saya BBM lagi.
“Ada mbak, tapi
facial foam, gimana?”
“Aku liat dulu
barangnya ya?”
“Oke, nanti
malam aku ke rumahmu”.
“Sip”
Karena tertarik dengan tawarannya,
sepulangnya saya dari kuliah saya langsung ke rumahnya. Malam itu juga saya
melihat katalog dan ditunjukkan produknya. Selain di katalog ia juga
menunjukkan tentang produk yang telah ia beli dari Oriflame untuk meyakinkan
saya sebagai calon konsumennya.
Saya tertarik dan langsung
memesannya. Harga Rp. 75.000,- yang biasanya saya anggap mahal pun demi
menghilangkan jerawat dengan mudahnya saya tertarik. Keesokan harinya saya
langsung memberikan uang cash pada adik saya, padahal barang belum
datang. Mungkin karena yang berjualan adalah adik saya sendiri saya pun yakin
dan tanpa ragu langsung percaya padanya walaupun barang pesanan saya belum
datang.
Seminggu kemudian produk datang.
Adik saya ketika memberikan barang tersebut pada saya tidak memberikan
informasi terkait produk tersebut, bahkan dia hanya memberikan barang tersebut
tanpa berbicara apapun atau mewanti-wantikan suatu hal. Karena saya berharap
jerawat ini segera hilang saya pun segera memakainya ketika mandi. Berikut
adalah hasil pemakaian saya tentang produk facial foam Oriflame pembersih
jerawat tersebut.
|
PEMAKAIAN
|
EFEK
PADA WAJAH
|
TINDAKAN
|
|
Pemakaian ke-1
|
Wajah terasa agak panas
|
Saya abaikan karena saya menganggap efek panas tersebut adalah
sebagai efek pemakaian di awal
|
|
Pemakaian ke-2
|
Wajah kering
|
Masih saya abaikan karena alasan yang sama
|
|
Pemakaian ke-3
|
Wajah kering dan kusam
|
Saya mulai berpikir untuk menghentikan pemakaian
|
|
Pemakaian ke-4
|
Wajah kering, kusam dan dikasih make-up tidak menempel
malah bekasnya tidak rata
|
Saya memutuskan untuk menghentikan pemakaian
|
Karena akibat semacam itulah saya memutuskan
untuk menghentikan pemakaian. Karena jerawat yang saya harapkan hilang malah
membuat kulit saya kering, kusam dan jelek jika dipakaian make-up.
Tindakan yang saya lakukan sebagai konsumen hanya memutuskan untuk berhenti
memakai tanpa pernah melakukan protes kepada siapapun, baik kepada reseller ataupun
produsen. Walaupun rasanya sayang dengan uang Rp. 75.000,- tadi yang seharusnya
jika saya belikan hal lain akan sangat bermanfaat. Saya berpikir percuma juga
jika saya protes kepada adik saya, karena dia juga tidak memahami tentang
produk yang ia jual. Bahkan ketika bertemu dengannya kembali dia bilang sudah
berhenti menjadi reseller Oriflame karena merasa tertekan dengan
manajernya yang setiap harinya menuntutnya untuk mencapai omset yang
seharusnya. Saya pun merasa jalan untuk saya protes tentang produk tersebut
sudah tertutup, padahal masih ada banyak jalan tanpa pernah saya pahami sebagai
konsumen.
Selang beberapa bulan setelah itu
tepatnya pada tanggal 3 September 2015 ada tawaran facial gratis dari
produk yang sama. Karena penasaran dengan produk yang saya pakai dulu saya pun
tertarik untuk hadir dan menerima tawaran yang kebetulan berasal dari rekan
saya. Tempatnya yang dekat yakni di kos salah satu teman pun menambah
ketertarikan saya untuk mengikutinya.
Sebelum acara dimulai Mas Eka
sebagai Gold Director dari Oriflame cabang Kediri memperkenalkan Oriflame
dari mulai sejarahnya hingga bagaimana Oriflame saat ini. Dari situlah saya
mendapat informasi bahwasanya Oriflame memberi garansi bagi pelanggan selama 30
hari jika pelanggan tidak merasa puas dengan produk Oriflame dan bisa meminta
ganti rugi produk yang senilai dengan barang tersebut namun harus sesuai dengan
syarat dan ketentuan berlaku yakni harus menggunakan terus-menerus produk
tersebut.
Selanjutnya rekan Mas Eka
menjelaskan tentang produk-produk Oriflame diantaranya adalah bagian skin
care. Dari situlah saya tahu bahwasanya produk yang telah saya gunakan
hanyalah untuk wajah yang jerawatnya sudah sangat banyak, tidak berlaku untuk
yang jearwatnya hanya sedikit apalagi cuma satu jearawat.
Inilah hak yang dilanggar dari saya
sebagai konsumen. Yakni hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang
produk yang saya beli. Dari sini saya jadi berpikir, apakah para reseller
yang telah banyak ada kebanyakan seamatir adik saya? Sehingga tidak bisa
memberikan informasi tentang produk-produk yang dijualnya. Ataukah memang tidak
ada training terlebih dahulu? Entahlah, saya hanya berharap konsumen
yang mendapat perlakuan yang sama seperti saya tidak akan ada lagi. Karena saya
tahu sebenarnya produk tersebut baik, akan tetapi jika konsumen tidak mendapat
informasi yang memadai maka akan terjadi efek yang buruk.







Tulisan dan ilustrasinya bagus, hanya saja pilihan warnanya agak menyulitkan untuk dibaca. Diterima, 90.
BalasHapus